NYERI HAID ATAU DISMENORHOE

A.    PENGERTIAN

1.      Dismenorea adalah nyeri haid yang merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit. ( Baziad, 2003 )

2.      Dismenorea adalah nyeri selama siklus haid atau satu dari gejla-gejala ginekologik yang paling sering ( Ben-Zion, 1994 )

3.       Dismenorea adalah menstruasi yang menimbulkan rasa nyeri. ( Chamberlan, 1994 )

4.      Dismenorea adalah menstruasi yang disertai rasa sakit sampai terjadi kram. ( DepKes RI, 1996 )

5.       Dismenorea adlaah istilah medis untuk nyeri haid (  Dinkes, 2005 )

6.      Dismenorea adalah sakit saat menstruasi sampai dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. (  Manuaba, 2001 )

7.      Dismenorea adlaah menstruasi yang sangat nyeri disebabkan oleh kejang otot uterus ( Price, 1995 )

8.      Dismenorea adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genetalia yang nyata ( Wiknjosastro, 1999 )

9.      Dismenorea adalah menstruasi yang disertai rasa sakit yang  hebat dan kram ( Kasdu, 2005 )

 

B.    JENIS-JENIS DISMENOREA

Dismenorea menurut Wiknjosastro ( 1999 ) dan Baziad  (2003 ) dismenorea dibagi menjadi 2 macam yaitu dismenorea primer dan dismenorea sekunder.

1.      Dismenorea Primer

·        Dismenoreaprimer adalah dismenorea yang tidak berhubungan dengan kondisi patologi ( Edge, 1994 )

·        Dismenorea primer merupakan bentuk yang lebih sering dijumpai. Biasanya tidak pada tahun-tahun pertama setelah menarche karena siklus awal biasanya bersifat anovulatorik. Namun, demikian rasa nyeri itu dapat terjadi pada bulan-bulan atau tahun-tahun pertama haid. Awitanya paloing sering pada masa remaja, dalam 2-5 tahun setelah menarche ( Baziad, 2003 )

·        Dismenorea primer dihubungkan dengan siklus ovulasi karena adanya penyerapan prostaglandin ketika endometrium terlepas ( Wilson dan Fooster, 1992 )

·        Dismenorea primer timbul sejak hari pertama dan akan menghilang dengan sendirinya. Nyeri haid ini tidak perlu bantuan medis untuk mengatasinya ( Dinkes, 2004 )

·        Dismenorea ini tidak disebabkan karena kelainan anatomis ( Perry dan Bobak, 2000 )

·        Dismenorea ini dimulai dalam 3 tahun pertama setelah menarche (  Fitriana, 2005 )

·        Nyeri ini tidak terdapat gangguan fisik yang mendasarinya dan hanya terjadi selama siklus-siklus anovulatorik ( Price, 2005 )

·        Sifat rasa nyeri pada dismenorea primer biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha (  Wiknjosastro, 1999 )

·        Gejala utama adalah nyeri dimulai pada saat awitan menstruasi. Nyeri dapat tajam, tumpul, siklik, atau menetap. Dapat berlangsung dalam beberapa jam sampai 1 hari. Gejala sistemik yang menyertai berupa mual, diare, sakit kepala, dan perubahan emosional ( Price, 1995 )

·         Jika keluhan yang sama tidak berhenti setiap kali haid datang, maka digolongkan sebagai nyeri haid primer ( BKKBN, 2004 )

2.      Dismenorea Sekunder

·        Dismenorea  sekunder adalah dismenorea yang dihubungkan dengan keadaan patologi ( Perry dan Bobak, 2000 )

·         Dismenorea sekunder adalah dismenorea yang disertai kelainan anatomis genetalis ( Manuaba, 2001 ). Biasanya muncul jika ada penyakit tertentu yang datang kemudian ( Dinkes, 2004 )

·        Dismenorea sekunder ditandai adanya kelainan organ dlaam pelvis dan harus dilakukan  pemeriksaan, misalnya pada wanita  yang menderita endometritis. Keluhan utama dalam bentuk nyeri setiap kali haid. ( BKKBN, 2004 )

·        Dismenorea sekunder disertai dengan kondisi-kondisi  seperti endometritis, radang  pelvis, keluhan pada uterus, dan pemakaian AKDR ( Cunningham, 1995 )

·        Nyeri dapat muncul pada usia berapapun tetapi dapat terjadi kapan pun selama masa haid ( tidak hanya pada awal haid saja ) ( Fitriana, 2005 )

 

C.   KLASIFIKASI NYERI DISMENOREA

Menurut Baziad (2003 ) dismenorea dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu :

1.      Dismenorea Ringan

Rasa nyeri yang berlangsung beberapa saat, hanya diperlukan istirahat sejenak  ( duduk, berbaring ) sehingga dapat dilakuan kerja atau aktivitas sehari-hari

2.      Dismenorea Sedang

Diperlukan obat untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa perlu meninggalkan aktivitas sehari-hari.

3.      Dismenorea Berat

Untuk menghilangkan keluhan istirahat beberapa hari, dengan akibat meninggalkan aktivitas sehari-hari.

 

D.   ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDISPOSISI DISMENOREA

Menurut Wiknjosastro (1999), banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan penyebab dismenorea primer, antara lain :

1.      Faktor kejiwaan

Pada gadis – gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapatkan penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenorea.

2.      Faktor Konstitusi

Faktor ini erat hubungannya dengan factor psikis, dapat juga menurunkan ketahanan terhadap nyeri. Factor –faktor seperti anemia, penakit menurun, dan sebagainya dapat mempengaruhi terjadinya dismenorea.

3.      Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis

Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenorea primer ialah stenosis kanalis servikalis.

4.      Faktor Endokrin

Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenorea primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan. Factor endokrin mempunyai hubungan dengan tonus dan kontraktilitas otot usus.

5.      Faktor Alergi

Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara dismenorea dengan urtikaria migraine atau asma bronkiale. Smite menduga bahwa sebab alergi adalah toksin haid.

 

Penyebab dari dismenorea sekunder adalah kelainan organik, seperti :

1.      Endometriosis pelvis dan adenosis.

2.      Uterus miomatosus, terutama mioma submukosum.

3.      Kelainan letak uterus, seperti retrofleksi, hiperantefleksi, dan retrofleksi terfiksasasi.

4.      Penyakit radang pada panggul kronik.

5.      Tumor ovarium, polip endometrium.

6.      Anomali kongenital traktus genetalia.

7.      Stenosis atau striktura kanalis servikalis, varitosis pelvik dan adanya AKDR.

8.      Faktor psikis seperti takut tidak punya anak, konflik dengan pasangan libido. (Baziad, 2003)

 

E.    PATOFISIOLOGI DISMENOREA

Menurut Edge (1994) dismenorea dihubungkan dengan ovulasi. Adanya ketidakseimbangan estroge progesteron menyebabkan kerusakan dinding lisosom. Akibatnya, peningkatan prostaglandin. Prostaglandinyang meningkat mengakinatkan adanya kontraksi iskemik miometrium sehingga mengakibatkan adanya dismenorea primer.

Peningkatan kadar prostaglandin yang berlebihan akan menyebabkan dismenorea yang disertai kram pada perut, sakit punggung, mual, muntah, diare, sakit kepala. (Pery dan Bobak, 2000)

 

F.    DIAGNOSIS DISMENOREA

Diagnosis dismenorea hanya didasarkan pada wanita yang mengeluh kesakitan sewaktu haid, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan. Menurut Pery dan Bobak (2000), pemeriksaan dapat dilakukan seperti :

1.      Ultrasonografi

Untuk mengetahui adanya kelainan anatomi uterus.

2.      Laparoscopy

Untuk melihat adanya kemungkinan endometritis atau kelainan pelvik lainnya.

 

G.   UPAYA PENCEGAHAN

  1. Selama haid hindari melakukan olah raga berat.
  2. Hindari mengkonsumsi alkohol, kopi, juga coklat. Karena hal ini dapat meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh. Jangan juga memakan makanan yang bertemperatur dingin selama masa haid. Misalnya, es krim, sebaiknya menghindari hal tersebut.
  3. Lebih banyak mengkonsumsi sayur dan buah – buahan serta makanan yang berkadar lemak rendah.
  4. Konsumsi vitamin. Vitamin E sebanyak 400 mg bisa mencegah peradangan dan meningkatkan respon kekebalan tubuh. Atau gunakan juga vitamin B6 untuk mengurangi penerimaan estrogen. Lebih baiknya minum juga minyak ikan yang bisa mengurangi radang. Selain itu, minyak ikan ini juga berguna untuk menghambat pertumbuhan tidak normalnya jaringan endometrial.
  5. Menjalani pola hidup sehat, jika sudah waktunya jangan menunda kehamilan. Lakukan juga pemeriksaan rutin secara berkala. (Kasdu, 2006).

Seperti menjaga makanan dengan gizi seimbang, olah raga teratur, cukup istirahat, management stres, serta pemeriksaan kesehatan.

 

H.   PENATALAKSANAAN DISMENOREA

Penatalaksanaan pada dismenorea dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan dan informasi tentang dismenorea, serta menjelaskan bahwa dismenorea ini dapat diatasi dengan pengobatan yang sederhana.

Menurut Sarwono (2005), ada beberapa penanganan, antara lain :

1.      Penerangan dan Nasehat

Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenorea adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaa, kegiatan dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu atau takhayul mengenai haid perlu dibicarakan. Nasehat – nasehat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olah raga mungkin berguna. Kadang – kadang diperlukan psikoterapi.

2.      Pemberian obat analgetik

Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat ditempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi penderitaan.

Obat analgetik yang sering diberikan adalah preparat kombinasi aspirin, fena setin dan kafein.

Obat – obat paten yang beredar di pasaran adalah antara lain novalgin, ponstan, acet aminophen, dsb.

3.      Terapi Hormonal

Tujuan therapy hormonal ialah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud untuk mrmbuktikan bahwa gangguan benar – benar  dismenorea primer atau memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan .Tujuan ini dapat dicapai denagn pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi.

4.      Terapi dengan obat non steroid anti prostaglandin

Terapi ini memegang peranan yang makin penting terhadap dismenorea primer. Termasuk disini indo metasin, ibu profen, dan naproksen; dalam kurang lebih 70% penderita dapat disembuhkan atau mengaami banyak perbaikan. Hendaknay pengobatan diberikan sebelum haid mulai; 1 – 3 hari sebelum haid dan pada hari pertama haid.

5.      Dilatasi kanalis servikalis

Hal ini dapat memberi keringanan karena memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya. Neuroktomi prasakral (pemotongan urat saraf sensorik antara uterus dan susunan saraf pusat) ditambah dengan neuroktomi ovarial (pemotongan urat saraf sensorik yang ada di ligamentum infundibulum) merupakan tindakan terakhir, apabila usaha – usaha lain gagal

Leave a comment »

Rubella

Rubella meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin. Yang terakhir terutama dijumpai apabila infeksi terjadi dalam kehamilan triwulan I (30-50%): lebih dini lebih besar kemungkinannya. Alat tubuh anak yang menderita biasanya (1) mata (katarak, glaukoma, mikroftalmia); (2) jantung (termasuk patent ductus arte­riosus defek septum jantung dan stenosis arteri pulmonalis) dan (4) susunan syaraf pusat (meningoensefalitis, kebodohan). Dapat pula terjadi cacat pendengaran, pneumonitis interstisialis difusa kronis, hambatan pertumbuhan intrauterin, kelainan hematologik (termasuk trombositopenia dan anemia), hepatosplenomegalia dan ikterus, pneumonitis interstisialis kronika difusa, dan kelainan kromosom. Selain itu, bayi dengan rubella bawaan selama beberapa bulan merupakan sumber infeksi bagi anak-anak dan orang dewasa lain.

Diagnosis rubella  tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir serupa dengan penyakit lain-lain, kadang-kadang tidak jelas atau tidak ada sama sekali. Pada setiap viremia, baik yang klinis jelas maupun yang sub-klinis, virus sering mencapai dan merusak embrio dan fetus. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus, atau dengan ditemukannya kenaikan titer antibodi rubella dalam serum. Pemeriksaan satu kali saja tidak memberi kepastian karena banyak orang dewasa sudah kebal terhadap rubella. Apabila titer 1:10 atau lebih, maka ini dapat dianggap sebagai petunjuk bahwa wanita sudah kebal. Akan tetapi, apabila titer mula-mula 1:8 atau kurang, dan pada pemeriksaan setelah 10-14 hari berikutnya ditemukan titer yang 4 kali lebih tinggi, maka kemungkinan viremia sangat besar, walaupun gejala-gejala klinisnya tidak timbul.

Apabila wanita tidak lama sebelum menjadi hamil atau yang hamil dalam triwulan I menderita viremia, maka abortus buatan perlu dipertimbangkan, walaupun keputusan terakhir kadang-kadang sangat sulit. Setelah triwulan I kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang, yaitu 6,8 % dalam triwulan II dan 5,3 % dalam triwulan III.

Hingga kini tidak ada obat-obat yang dapat mencegah viremia pada orang yang tidak kebal. Manfaat gamma globulin dalam hal ini masih diragukan. Yang lebih manjur ialah vaksin rubella. Akan tetapi, vaksinasi ini sering dilakukan tidak lama sebelum terjadinya kehamilan atau dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi janin. Karena itu, lebih baik vaksinasi diberikan sebelum perkawinan.

( Sarwono,2005 )

Penyakit ini menyebar melalui saluran pernafasan, infeksi droplet dan penderita terinfeksi mulai sekitar 9 hari sebelum timbulnya ruam. Virus di udara (lembab) masuk ke kelenjar limfe kemudian masuk melalui aliran darah yang dapat mengakibatkan viremia. Virus dapat diisolasi dari jaringan fetus yang mengalami abortus dari anak-anak dengan kelainan kongenital yang disebabkan oleh rubella dan dari anak-anak yang tampak sehat dengan ibu menderita campak jerman pada waktu hamil.

Isolasi virus ini dapat diperoleh dari tenggorokan. Virus ini dapat dideteksi dengan penambahan echovirus pada biakan jarinan untuk mengganggu efek simptomatik yang disebabkan echovirus. Virus dapat diidentifikasi dengan menghambat efek gangguan tesebut dengan antiserum spesifik.

Antibodi terhadap rubella dapat dideteksi dengan tes hemaglutinasi-inhibisi dan tes fiksasi komplemen. Dengan mengukur titer antibodi pada waktu yang tepat, infeksi yang lalu dapat dibedakan dari infeksi aktif atau infeksi yang terakhir, suatu perbedaan yang penting pada awal kehamilan. Terapi : antivirus ( asiklovir )

Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda. Tanda-tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak.

Pencegahan :

1. Pendidikan bagi para petugas pelayanan kesehatan dan masyarakat luas mengenai bahaya infeksi rubella.

2.    Vaksinasi bagi para ibu yang rentan sebagai bagian dari perawatan medis dan obstetrik rutin. Vaksinasi bagi semua wanita yang datang ke klinik keluarga berencana.

3.   Pengenalan dan vaksinasi bagi wanita yang belum memiliki kekebalan sesudah  melahirkan bayi atau mengalami abortus

4.  Vaksinasi bagi wanita yang tidak hamil dan mempunyai kerentanan yang diketahui lewat pemeriksaan serologi sebelum perkawinan.

5.   Wanita diimunisasi rubela pada minggu ke-11 dan 13 dengan menggunakan virus live attnuated strain (strain RA 27/3).

6.   Jaminan imunitas bagi semua petugas rumab sakit yang dapat terpapar pasien rubela  atau yang meng­alami kontak dengan ibu hamil

7.    Melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM.

Jika hasil keduanya negatif, sebaiknya Anda ke dokter untuk melakukan vaksinasi, namun Anda baru diperbolehkan hamil 3 bulan setelah vaksinasi

Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan anti-Rubella IgG positif, dokter akan menyarankan Anda untuk menunda kehamilan

Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti Anda pernah terinfeksi dan antibodi yang terdapat dalam tubuh Anda dapat melindungi dari serangan virus Rubella. Bila Anda hamil, bayi Anda pun akan terhindar dari Sindroma Rubella Kongenital

 

Vaksinasi rubela dianjurkan agar tidak dilakukan sesaat sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan, mengingat vaksin tersebut merupakan virus hidup yang dilemahkan.

The Centers for Disease Control (1987b) telah mempertahankan pencatatan sejak tabun 1971 untuk memantau efek vaksinasi terhadap janin. Sampai tahun 1986, 1.176 wanita yang rentan terhadap infeksi rubela telab diimunisasi dalam waktu 3 bulan sejak pembuahan dan untungnya tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pemberian vaksin tersebut menimbulkan malformasi pada bayi atau janin. Kasus­ kasus di mana wanita yang rentan diimunisasi selama keha­milannya harus dilaporkan ke bagian pencatatan ini (Centers for Disease Control, Atlanta, Georgia, 404-329-1870).  

 

Leave a comment »

ABORTUS

Abortus diartikan dengan berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa mempersoalkan penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila berat badannya telah mencapai >500 gram atau umur kehamilan >20 minggu (Sastrawinata,2004:1). Torres (2008) mengemukakan proses abortus dapat berlangsung secara : spontan / alamiah (terjadi secara alami, tanpa tindakan apapun), buatan / sengaja (aborsi yang dilakukan secara sengaja), terapeutik / medis (aborsi yang dilakukan atas indikasi medik karena terdapatnya suatu permasalahan atau komplikasi).
Penyebab abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor, yaitu faktor janin, maternal dan paternal (Sastrawinata,2004:2). Menurut Torres (2008), faktor resiko yang berhubungan dengan terjadinya abortus antara lain : usia ibu yang lanjut, riwayat kehamilan sebelumnya yang kurang baik, riwayat infertilitas (tidak memiliki anak), adanya kelainan atau penyakit yang menyertai kehamilan, infeksi (cacar, toxoplasma, dll), paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat-obatan, alkohol, radiasi), trauma pada perut atau panggul pada 3 bulan pertama kehamilan yang bisa terjadi ada ibu yang bekerja, dan kelainan kromosom (genetik).
Umumnya abortus didahului oleh kematian janin yang kemudian diikuti dengan perdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada daerah implantasi. Infiltrasi sel-sel peradangan akut dan akhirnya perdarahan per vaginam. Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu terjadi pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi) (Sastrawinata,2004:3).
Prof. Dr. Untung Praptohardjo, SpOg (K) (2007) dalam orasi Ilmiah Pertemuan Ilmiah Tahunan Persatuan Obstetri Ginekologi Indonesia (PIT-POGI) mengemukakan bahwa abortus dikaitkan dengan tingginya angka kematian ibu melahirkan. Hal ini diperkuat oleh Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 yang menunjukan aborsi memberikan kontribusi 11% terhadap angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Di Indonesia sendiri, AKI tahun 2007 mencapai 248/100.000 KH yang didasarkan perhitungan oleh BPS, sedangkan berdasarkan data yang dikirimkan oleh Puskesmas pada tahun 2007 sebesar AKI mencapai 119/100.000 KH (Menkes RI,2008). Menurut Sudarianto (2008), Angka Kematian Ibu di Indonesia tahun 2007 masih sangat tinggi bila dibandingkan dengan negara ASEAN, misalnya bila dibandingkan dengan AKI di Singapura hanya 6/100.000, Malaysia sebesar 39/100.000, dan Thailand sebesar 129/100.000.
Menurut Dr. Ieke Irdjiati, MPH, Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan (2007) menyebutkan bahwa 90% kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, toksemia gravidarum, infeksi, partus lama dan komplikasi abortus. Komplikasi abortus itu sendiri meliputi perdarahan yang merupakan penyebab pertama kematian ibu di Indonesia, infeksi, perforasi, gagal ginjal akut, dan syok. Oleh karena itu, BKKBN (2005) melaporkan abortus sebagai penyebab kematian maternal ke-4 setelah perdarahan, keracunan kehamilan ( eklamsi maupun preeklamsi), dan infeksi.
Data dari berbagai negara menunjukan bahwa 10-15 % kehamilan berakhir dengan abortus (Lllewlyn,2003:96). Tidak jauh berbeda dengan Lllewlyn, Siegler, Eastman, dan Tretze (1953) menyebutkan bahwa insiden abortus spontan secara umum sebesar 10 % dari seluruh kehamilan (Cunningham, 1995:571). Menurut Eastman, 80% dari abortus terjadi pada bulan ke 2-3 kehamilan, sementara Simens mendapatkan angka 76% (Mochtar, 1998:209 ). Lebih dari 80% abortus terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan dan angka tersebut kemudian menurun secara cepat dengan bertambahnya umur kehamilan (Harlap,dkk,1980 dalam Cunningham,1995:573). Diketahui sekitar 15-40% dari angka kejadian abortus terjadi pada ibu yang sudah dinyatakan positif hamil dan sisanya pada ibu yang sebelumnya belum mengetahui dirinya hamil.
Departemen Kesehatan RI (2003) menyatakan tingkat abortus di Indonesia masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia, yakni mencapai 2,3 juta abortus per tahun. Affandi ( 2003 ) menambahkan bahwa dari 2,3 juta kasus yang terjadi di Indonesia, sekitar 1 juta terjadi secara spontan, 0,6 juta diaborsi karena kegagalan KB dan 0,7 diaborsi karena tidak digunakannya alat KB. Fauzi (2003) menambahkan bahwa angka abortus spontan di Indonesia adalah 10-15 % dari 6 juta kehamilan tiap tahunnya, atau sekitar 600-900 ribu/tahun. Sedangkan kejadian abortus buatan sekitar antara 750.000-1.000.000/tahun.

Leave a comment »

Hubungan usia ibu dengan kejadian abortus

Istilah umur diartikan dengan lamanya keberadaan seseorang diukur dalam satuan waktu di pandang dari segi kronologik, individu normal yang memperlihatkan derajat perkembangan anatomis dan fisiologik sama (Dorland,1995:).
Penyebab kematian maternal dari faktor reproduksi diantaranya adalah maternal age/usia ibu. Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia dibawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi dari kematian maternal pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali setelah usia 30-35 tahun (Wiknjosastro,2005:23).
Menurut Catanzarite dalam Maternal Newborn (1999), menyatakan bahwa wanita usia lebih dari 30 tahun sering kali mengalami kondisi kesehatan yang kronik (resiko tinggi). Tentu saja hal itu akan sangat berpengaruh jika wanita tersebut hamil.
Resiko keguguran spontan tampak meningkat dengan bertambahnya usia terutama setelah usia 30 tahun, baik kromosom janin itu normal atau tidak, wanita dengan usia lebih tua, lebih besar kemungkinan keguguran baik janinnya normal atau abnormal (Murphy,2000:9). Semakin lanjut umur wanita, semakin tipis cadangan telur yang ada, indung telur juga semakin kurang peka terhadap rangsangan gonadotropin. Makin lanjut usia wanita, maka resiko terjadi abortus, makin meningkat karena menurunnya kualitas sel telur atau ovum dan meningkatnya resiko kejadian kelainan kromosom (Samsulhadi,2003). Pada gravida tua terjadi abnormalitas kromosom janin sebagai salah satu faktor etiologi abortus (Friedman,1998).
Erlina (2008) menyatakan bahwa usia seorang ibu nampaknya memiliki peranan yang penting dalam terjadinya abortus. Semakin tinggi usia maka risiko terjadinya abortus semakin tinggi pula (tabel 2.1). Hal ini seiring dengan naiknya kejadian kelainan kromosom pada ibu yang berusia diatas 35 tahun. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kejadian tumor leiomioma uteri pada ibu dengan usia lebih tinggi dan lebih banyak sehingga dapat menambah risiko terjadinya abortus.
tabel 2.1. Risiko kejadian abortus dan usia ibu
Umur ibu Risiko Abortus
15-19 9.9
20-24 9.5
25-29 10.0
30-34 11.7
35-39 17.7
40-44 33.8
> 44 53.2
Sumber : http://www.WordPress.com
Wanita hamil kurang dari 20 tahun dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan janin karena belum matangnya alat reproduksi untuk hamil. Penyulit pada kehamilan remaja (<20 tahun) lebih tinggi dibandingkan kurun waktu reproduksi sehat antara 20-30 tahun. Keadaan tersebut akan makin menyulitkan bila ditambah dengan tekanan (stress) psikoogis, sosial, ekonomi, sehingga memudahkan terjadinya keguguran (Manuaba,1998:27)
Usia seorang wanita pada saat hamil sebaiknya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Umur yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30 tahun beresiko tinggi untuk hamil atau melahirkan. Kesiapan seorang wanita untuk hamil atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam 3 hal yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental, kesiapan emosi dan psikologi, kesiapan sosial dan ekonomi.Usia ibu hamil yang beresiko adalah kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30 tahun (BKKBN,2001).
Risiko terjadinya abortus spontan meningkat bersamaan dengan peningkatan jumlah paritas, usia ibu, jarak persalinan dengan kehamilan berikutnya. Abortus meningkat sebesar 12% pada wanita usia kurang dari 20 tahun dan meningkat sebesar 26% pada usia lebih dari 40 tahun. Insiden terjadinya abortus meningkat jika jarak persalinan dengan kehamilan berikutnya 3 bulan (Cunningham,1995:578).
Dr.Nyol (2008) mengatakan dalam blognya bahwa umur maternal dan jumlah keguguran sebelumnya merupakan dua faktor risiko independen terhadap terjadinya keguguran selanjutnya. Semakin tua umur ibu berpengaruh terhadap fungsi ovarium, dimana sel telur yang berkualitas akan semakin sedikit, yang berakibat abnormalitas kromosom hasil konsepsi yang selanjutnya akan sulit berkembang.

Leave a comment »

PERTOLONGAN PERSALINAN DI RUMAH

Alasan dari sikap  demikian :

-         Mrs lebih aman bila bersalin di rumah, karena berada dalam lingkungan yg tdk asing untuknya dan selalu berada dalam lingkungan keluarga

-         Menganggap persalinan lebih murah

-         Tidak meninggalkan rmh sehinngga tetap dapat mengawasi aktivitas kehidupan rumah tangga sehari-hari

Yg tidak dianjurkan persalinan di rumah

n      Rumah atau tempat tinggal tdk mengizinkan

     - tllu penuh sesak penghuninya

     - keadaan sanitasi tllu menyedihkan

n      Resiko anak tllu besar

     - Ibu mengalami berkali-kali kelahiran bayi mati

     - bila di duga bayi akan lahir prematur

Persiapan pertolongan di Rmh

n      Kunjungan petugas

n      Memilih kamar/ruangan yg akan dipakai u/ bersalin

n      Memilih tempat tidur

n      Memberi petunjuk mengenai keperluan untuk bayi dan ibu yg disesuaikan dg kemampuannya

n      Petunjuk dan cara memanggil atau menghubungi petugas

n      Petunjukan yg hrs dilakukan dan dipersiapkan selama menunggu kedatang petugas

n      Persiapan patugas

Hal yg harus diperhatikan pada waktu memberi pertolongan

n      Dasar-dasar asepsis tidak boleh dihilangkan

n      Segi emosi penderita hrs diperhatikan petugas

n      Petugas diharapkan pandai menggunakan alat-alat yg tersedia dan bekerja dlm kead yg serba kurang

Perawatan ibu dan anak di RS dan Puskesmas

Leave a comment »

PERSALINAN LAMA

Adalah : persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi, dan lebih dari 18 jam pada multi.

Menurut harjono adalah merupakan fase teakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul gejala-gejala seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu, serta asfiksi dan kematian janin dalam kandungan (KJDK)

Harus pula kita bedakan dengan partus tak maju, yaitu suatu persalinan dengan his yang adekuat yang tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala, dan putar paksi selama 2 jam terakhir. Persalinan pada primitua biasanya lebih lama. Insiden partus lama menurut penilitian adalah 2,8-4,9%.

*      Etiologi

Sebab-sebab terjadinya partus kasep ini adalah multikomplek, dan tentu saja bergantung pada pengawasan selagi hamil, pertolongan pesalinan yang baik, dan penatalaksanaannya.

Faktor-faktor penyebab adalah antara lain :

-        Kelainan letak janin

-        Kelainan-kelainan panggul

-        Kelainan his

-        Pimpinan partus yang salah

-        Janin besar atau ada kelainan kongenital

-        Primitua

-        Perut gantung, grandmulti

-        Ketuban pecah dini

*      Gejala Klinik

1)       Pada Ibu :

Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat, pernapasan cepat, dan meteorismus. Di daerah lokal sering dijumpai: Ring v/d Bandl, eedema vulva, edema serviks, cairan ketuban berbau, terdapat mekonium.

2)       Pada Janin

-        DJJ cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif, air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau.

-        Kaput suksedaneum yang besar

-        Moulage kepala yang hebat

-        Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK)

-        Kematian Janin Intra Partal (KJIP)

*      Penanganan

1)       Perawatan Pendahuluan

Penatalaksanaan penderita dengan partus kasep (lama) adalah sebagai berikut:

a.       Suntikan Cortone acetate: 100-200 mg intramuskuler

b.      Penisilin prokain : 1 juta IU intramuskuler

c.       Streptomisin : 1 gr intramuskuler

d.      Infus cairan:

-        Larutan garam fisiologis

-        Larutan glucose 5-10% pada janin pertama: 1 liter/jam

e.      Istirahat 1 jam untuk observasi, kecuali bila keadaan mengharuskan untuk sgera bertindak

2)       Pertolongan :

Dapat dilakukan partus spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forcep, manual aid pada letak sungsang, embriotomi bila janin meninggal, seksio sesarea, dan lalin-lain.

Leave a comment »

KISTA OVARIUM

Kista Ovarium yaitu suatu kantong abnormal yang berisi cairan atau setengah cair yang tumbuh dalam indung telur. Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus oleh selaput semacam jaringan. Bentuknya kistik dan ada pula yang berbentuk seperti anggur. Kista dapat berisi udara, cairan kental, maupun nanah. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jumlah diagnosa kista ovarium meningkat seiring dengan pemeriksaan fisik dan penggunaan ultrasound (USG) secara luas. (Marinan,2007)

Berdasarkan tingkat keganasannya, kista dibedakan menjadi dua macam, yaitu kista non-neoplastik dan kista neoplastik. Tentang neoplastik belum ada klasifikasi yang dapat diterima oleh semua pihak. Hal ini terjadi karena klasifikasi berdasarkan histopatologi dan embriologi belum dapat diberikan secara tuntas berhubung masih kurangnya pengetahuan mengenai asal-usul beberapa kista.

Pada sebagian besar kanker ovarium berbentuk tumor kistik (kista ovarium) dan sebagian kecil berbentuk tumor padat. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena penyakit ini awalnya bersifat asimptomatik dan baru menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60% – 70% pasien datang pada stadium lanjut, sehingga penyakit ini disebut juga sebagai “silent killer” (6)

Pemeriksaan USG transvaginal ditemukan kista ovarium pada hampir semua wanita premenopouse dan terjadi peningkatan 14,8% pada wanita post menopouse. Kebanyakan dari kista tersebut bersifat jinak. Kista ovarium fungsional terjadi pada semua umur, tetapi kebanyakan pada wanita masa reproduksi. Dan kista ovarium jarang setelah masa menopouse. (8)

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.